Poveku

Perhitungan Retensi dan Jaminan Pemeliharaan Proyek Konstruksi

Diperbarui

Kalkulasikan nilai pemotongan uang retensi 5% atau penerbitan garansi bank untuk menjamin perbaikan cacat mutu selama masa pemeliharaan konstruksi.

Dasar: Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 jo. Perpres Nomor 12 Tahun 2021 dan Standar Dokumen Pemilihan Pekerjaan Konstruksi Kementerian PUPR. Sumber: Kementerian PUPR & LKPP.
Status: Belum dicocokkan dengan sumber resmi. Perlakukan angka dan aturan di halaman ini sebagai estimasi.

Konsep Masa Pemeliharaan dalam Kontrak Jasa Konstruksi

Setelah pekerjaan konstruksi fisik selesai tuntas 100 persen, hubungan kontraktual antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan kontraktor tidak serta merta berakhir. Proyek memasuki tahap krusial yang disebut Masa Pemeliharaan (Defects Liability Period). Selama masa ini, penyedia jasa konstruksi bertanggung jawab penuh memperbaiki setiap kerusakan, retak struktur, kebocoran, atau cacat mutu fisik yang timbul akibat ketidaksempurnaan pelaksanaan.

Dua Tahapan Serah Terima Pekerjaan Konstruksi (PHO dan FHO)

Standar kontrak konstruksi Indonesia membedakan dua peristiwa serah terima resmi: Pertama, Serah Terima Pertama Pekerjaan (Provisional Hand Over / PHO) yang dilaksanakan saat pekerjaan fisik rampung 100 persen dan bangunan siap digunakan; Kedua, Serah Terima Akhir Pekerjaan (Final Hand Over / FHO) yang dilaksanakan setelah masa pemeliharaan selesai dan seluruh catatan kerusakan tuntas diperbaiki oleh kontraktor.

Besaran Pemotongan Uang Retensi Standar Sebesar 5 Persen

Pasal 36 Perpres 16/2018 jo. Perpres 12/2021 mengatur instrumen penjaminan masa pemeliharaan: Kontraktor wajib menyediakan jaminan pemeliharaan senilai 5 persen dari total nilai kontrak pekerjaan konstruksi. Jaminan ini berfungsi sebagai dana talangan likuid bagi PPK untuk memperbaiki kerusakan bangunan apabila kontraktor kabur ingkar janji menolak melakukan perbaikan selama masa garansi.

Dua Alternatif Mekanisme: Pemotongan Kas versus Garansi Bank

Kontraktor diberikan hak memilih salah satu dari dua metode penjaminan pemeliharaan: Opsi Pertama, Pemotongan Uang Retensi (Retention Money) di mana pembayaran termin kontraktor saat PHO hanya dicairkan sebesar 95 persen, dan sisa kas 5 persen ditahan di kas negara; Opsi Kedua, Penyerahan Sertifikat Jaminan Pemeliharaan (Maintenance Bond / Bank Garansi) 5 persen sehingga pembayaran termin dapat dicairkan utuh 100 persen kas saat PHO.

Durasi Standar Masa Pemeliharaan Berdasarkan Sifat Konstruksi

Lama durasi masa pemeliharaan diatur dalam Syarat-Syarat Khusus Kontrak (SSKK): Untuk pekerjaan konstruksi permanen berumur panjang (seperti gedung perkantoran, jembatan beton, jalan aspal hotmix), masa pemeliharaan ditetapkan minimal 6 bulan (180 hari) hingga 12 bulan; Untuk pekerjaan semi-permanen atau pemeliharaan berkala sederhana, durasi masa pemeliharaan dapat berkisar antara 3 hingga 6 bulan.

Prosedur Pencairan Kembali Uang Retensi pada Saat FHO

Menjelang berakhirnya masa pemeliharaan, Panitia Peneliti Pelaksanaan Kontrak melakukan inspeksi lapangan bersama kontraktor. Apabila seluruh fasilitas terbukti berfungsi sempurna bebas cacat tersembunyi, Berita Acara Serah Terima Akhir Pekerjaan (BAST FHO) diterbitkan dan ditandatangani, yang menjadi dasar pencairan uang retensi 5 persen kembali ke rekening kas kontraktor.

Konsekuensi Hukum Kontraktor yang Menelantarkan Kewajiban Pemeliharaan

Apabila selama masa pemeliharaan kontraktor mengabaikan surat peringatan perbaikan dari PPK, PPK berhak menyita uang retensi kas 5% atau mencairkan Bank Garansi Jaminan Pemeliharaan. Dana sitaan tersebut digunakan PPK untuk membayar pihak ketiga melakukan perbaikan kerusakan fisik, dan kontraktor ingkar janji dijatuhi sanksi daftar hitam (blacklist) selama 1 tahun.

Perbedaan Tanggung Jawab Pemeliharaan Terhadap Kegagalan Bangunan

Penting membedakan tanggung jawab masa pemeliharaan (berlaku 6-12 bulan untuk cacat operasional ringan) dengan Tanggung Jawab Kegagalan Bangunan (sesuai UU Jasa Konstruksi No. 2 Tahun 2017). Kegagalan bangunan mencakup runtuhnya struktur utama akibat kesalahan desain atau mutu material yang menjadi tanggung jawab hukum perdata penyedia hingga jangka waktu 10 tahun sejak FHO.

Akuntansi Pencatatan Retensi dalam Laporan Keuangan Kontraktor

Dalam buku besar akuntansi penyedia jasa konstruksi, saldo retensi dicatat sebagai akun Piutang Retensi (Retention Receivable). Saldo ini diakui sebagai aset lancar yang akan ditagihkan kepada pemerintah setelah terbitnya BAST FHO, menandai penuntasan sempurna seluruh siklus kewajiban kontrak proyek konstruksi.

Penyusunan Berita Acara Kerusakan Cacat Ringan Lapangan

Selama periode retensi berjalan, tim pengelola gedung mencatat setiap keluhan fisik seperti kebocoran atap atau penurunan fungsi instalasi sanitasi dalam formulir pemeriksaan berkala. Dokumentasi rapi memudahkan kontraktor melakukan perbaikan terarah sebelum jadwal inspeksi serah terima akhir FHO.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa persentase standar nilai retensi atau jaminan pemeliharaan pekerjaan konstruksi?

Besaran standar jaminan pemeliharaan konstruksi adalah 5 persen dari total nilai kontrak sesuai regulasi LKPP.

Apa perbedaan utama antara peristiwa PHO dan FHO dalam proyek konstruksi?

PHO adalah serah terima pertama saat fisik selesai 100%, sedangkan FHO adalah serah terima akhir setelah masa pemeliharaan lunas.

Bagaimana kontraktor dapat mencairkan pembayaran termin 100 persen saat PHO tanpa dipotong retensi?

Kontraktor dapat menyerahkan surat Jaminan Pemeliharaan berupa Bank Garansi atau surety bond senilai 5% kontrak.

Kapan uang retensi 5% yang dipotong kas dapat dicairkan kembali ke rekening kontraktor?

Dicairkan setelah masa pemeliharaan berakhir dan Berita Acara Serah Terima Akhir (BAST FHO) ditandatangani PPK.