Dua jenis biaya yang harus dipisahkan
Titik impas, atau break-even point (BEP), adalah jumlah penjualan ketika total pendapatan sama dengan total biaya: belum untung, tetapi juga belum rugi. Untuk menghitungnya, biaya usaha dipisah menjadi dua kelompok.
- Biaya tetap: jumlahnya tidak ikut berubah ketika penjualan naik atau turun dalam kisaran wajar, misalnya sewa tempat, gaji karyawan tetap, listrik dasar, dan internet.
- Biaya variabel: ikut naik seiring jumlah yang terjual, misalnya bahan baku per porsi, kemasan, dan komisi penjualan.
Selisih antara harga jual dan biaya variabel per unit disebut margin kontribusi. Itulah jumlah yang tersisa dari tiap penjualan untuk menutup biaya tetap dan, setelah biaya tetap tertutup, menjadi laba.
Rumus dan contoh kedai kopi
Rumus titik impas dalam unit: BEP sama dengan biaya tetap dibagi margin kontribusi per unit. Contoh, sebuah kedai kopi kecil memiliki biaya tetap per bulan:
- Sewa tempat: Rp2.500.000
- Gaji karyawan tetap: Rp2.000.000
- Listrik, air, dan internet: Rp500.000
Total biaya tetap Rp5.000.000. Satu cup kopi dijual Rp20.000, dengan biaya variabel (kopi, susu, gula, gelas, sedotan) Rp8.000. Margin kontribusi per cup adalah Rp12.000, atau 60% dari harga.
BEP-nya Rp5.000.000 dibagi Rp12.000, yaitu 416,67. Karena tidak ada 0,67 cup, bulatkan ke atas menjadi 417 cup per bulan. Kalau kedai buka 26 hari sebulan, itu sekitar 16 cup per hari. Dalam rupiah, omzet titik impasnya adalah biaya tetap dibagi rasio kontribusi: Rp5.000.000 dibagi 0,60, sekitar Rp8,33 juta.
Jumlah itu belum memberi laba sama sekali. Jika pemilik menginginkan laba Rp3.000.000 sebulan, tambahkan target itu ke biaya tetap: (Rp5.000.000 + Rp3.000.000) dibagi Rp12.000 sama dengan 666,67, dibulatkan 667 cup per bulan, atau sekitar 26 cup per hari.
Apa yang terjadi kalau harga atau biaya berubah
Kelebihan BEP adalah Anda bisa menguji keputusan sebelum menjalankannya. Dua contoh dari kedai yang sama:
| Perubahan | Margin kontribusi / biaya tetap | BEP baru | Perubahan BEP |
|---|---|---|---|
| Harga turun 10% (menjadi Rp18.000) | Rp10.000 / Rp5.000.000 | 500 cup | naik 20% |
| Sewa naik Rp500.000 | Rp12.000 / Rp5.500.000 | 459 cup | naik 10% |
Harga turun 10% tetapi BEP naik 20%, karena margin kontribusi turun lebih besar dari 10% (dari Rp12.000 menjadi Rp10.000). Inilah alasan diskon sebaiknya diperlakukan sebagai keputusan besar, bukan promosi kecil.
Cara memakai hasilnya dan batasannya
- Bandingkan BEP dengan kenyataan. Catat penjualan harian selama beberapa minggu. Kalau rata-rata penjualan jauh di bawah BEP, ada tiga pilihan: menaikkan harga, menurunkan biaya, atau menaikkan penjualan.
- Masukkan upah pemilik sebagai biaya tetap. Kalau tidak, usaha yang tampak impas sebenarnya belum membayar waktu Anda sendiri.
- Hitung per produk atau per kelompok produk. Jika harga dan biaya variabel tiap produk berbeda jauh, satu angka BEP rata-rata bisa menyesatkan.
- Ingat asumsinya: harga dan biaya variabel dianggap tetap, padahal harga bahan bisa naik dan biaya tetap bisa melonjak saat Anda menambah karyawan atau pindah tempat. Hitung ulang tiap kali ada perubahan besar.
Untuk menghitung dengan angka Anda sendiri, gunakan kalkulator titik impas. Harga per unit yang dipakai sebaiknya berasal dari perhitungan HPP dan harga jual, dan hasilnya perlu dicocokkan dengan catatan kas bulanan Anda.
BEP bukan ramalan, hanya alat bantu hitung. Angkanya baik hanya sebaik data biaya yang Anda masukkan.



